๐๐ถ๐๐ฎ๐ต ๐ฆ๐ฎ๐ต๐ฎ๐ฏ๐ฎ๐ ๐๐๐ผ๐น๐๐๐ถ ๐ ๐ฎ๐ป๐๐๐ถ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ถ๐ฏ๐ฒ๐ป๐ฐ๐ถ ๐ฆ๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ถ๐ฎ๐ป ๐ข๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ป๐ฑ๐ผ๐ป๐ฒ๐๐ถ๐ฎ
Foto di bawah ini diambil pada tahun 1915, dan sebelum foto berwarna menjadi umum dan perempuan Indonesia semakin jarang yang berkain sesehari seperti sekarang ini. Tapi inilah realita bangsa kita, anjing sudah jadi bagian dari keluarga Indonesia sejak lama.
R.M. Nowak (2003) memperkirakan persinggungan pertama manusia dengan serigala abu-abu (Canis lupus) leluhur anjing yang didomestikasi dan jadi bagian kehidupan di Euroasia pada era Miosen, ketika jaman es memasuki masa akhir sekitar 150 ribu tahun lalu. Sebelum menjadi sahabat manusia, sebagian serigala abu-abu terlebih dahulu mengalami divergensi genetika dan menjadi lebih jinak dibanding leluhur serigala mereka.
Para ahli paleontologi meyakini bahwa pertemanan manusia dengan kerabat serigala yang jinak ini ikut membentuk kebertahanan (survival) kedua spesies hingga bisa bertahan sampai kini. Kerjasama manusia dan anjing meningkatkan rasio keberhasilan dalam berburu binatang dan keduanya bisa saling menjaga. Anjing juga membantu manusia menjaga hunian, kebun dan tanaman dari ancaman binatang liar dan orang lain yang berbahaya. Anjing juga membantu menggembalakan dan menjaga ternak.
Di Indonesia tidak pernah tercatat keberadaan serigala abu-abu, baik secara paleontologis atau catatan persebarannya. Para ahli canine Indonesia meyakini bahwa anjing lokal asli Indonesia berasal dari ajak (latin: Cuon alpinus) bukan dari serigala abu-abu. Postur tubuh ajak lebih kecil dan secara fisik tampak seperti percampuran serigala dengan rubah.
Jika anjing dan manusia bersahabat sejak jaman purba dan menentukan keberhasilan keduanya dalam bertahan hidup, mengapa sebagian dari kita begitu membenci dan menyebarkan prasangka buruk kepada sahabat kita itu?
Komentar
Posting Komentar