Mengapa Socrates dihukum mati?
Terus kalo kamu jawab, dia bakal nimpalin, “Tapi bukankah itu cuma ilusi yang kamu warisi dari orang tuamu yang juga nggak pernah mikir sendiri?” — ya, kira-kira kayak gitu lah Socrates di mata warga Athena.
Menyebalkan? Jelas. Tapi berbahaya? Nah, itu yang mereka putuskan. Spoiler: dia disuruh minum racun. Akhir cerita.
Jadi begini, Socrates itu semacam tukang gali akar di sebuah taman yang pengunjungnya cuma mau selfie sama patung-patung dewa. Taman ini—kita sebut aja “Athena Theme Park”—lagi bener-bener sensitif. Baru kalah perang, ekonominya kacau, dan banyak orang penting (yang katanya pahlawan) ternyata ngacau. Nah, di tengah semua itu, muncul si bapak tua yang satu ini. Bukan cuma nyinyir, dia ngajak semua orang—terutama anak-anak muda labil—buat mikir ulang soal hidup, moralitas, bahkan Tuhan.
Masalahnya, cara dia mikir tuh bukan yang adem ayem ala seminar motivasi. Nggak ada tuh “percaya aja, semua akan indah pada waktunya”. Socrates tuh tipenya yang bakal nanya, “Kenapa kamu percaya itu? Dari mana datangnya keyakinanmu? Udah kamu uji belum logikanya?” Dan ketika kamu mulai kebingungan, dia nggak berhenti. Dia senyum, nyengir dikit, dan lanjut nanya lagi.
Nah, bisa kamu bayangin kan? Generasi tua yang lagi frustrasi lihat anak-anaknya makin berani nanya macam-macam dan mulai mempertanyakan sistem yang udah ribuan tahun dipakai… pasti panas dong.
Maka Socrates dituduh dua hal: merusak moral anak muda dan tidak mengakui dewa-dewa. Yang pertama? Karena terlalu banyak anak muda mulai pakai otaknya. Yang kedua? Karena Socrates percaya kebenaran nggak harus datang dari Zeus dan teman-temannya.
Kalau kamu mikir, “tapi itu kan cuma pertanyaan, emang salah?”, well… di tempat dan waktu yang salah, pertanyaan bisa lebih mematikan daripada pedang. Apalagi kalau kamu nanya hal-hal yang bikin elit politik kelihatan bego. Itu kayak ngajarin anak SMA buat ngebongkar sistem UN, terus bilang ke guru-guru: “Eh, ini semua nggak logis lho, Bu.” Pasti jadi masalah.
Dan ketika dia diadili? Dia bukannya minta maaf atau nurut, malah makin “Socrates banget.”
Dia bilang, “Kalau kalian membunuhku, kalian cuma bikin dirimu makin bodoh. Aku ini kayak lalat kecil yang bikin kuda besar (Athena) tetap sadar.” — bayangin, dia nyebut dirinya lalat dan negara sebagai kuda. Di pengadilan. Gila hormat bukan gaya dia.
Akhirnya? Dia divonis mati. Dikasih cawan racun (hemlock), dan dia minum sambil ngobrol santai sama temen-temennya. Nggak drama, nggak ngemis. Cool, calm, and deeply annoying till the end.
Sekarang coba pikirin ini: dia dihukum bukan karena dia jahat, tapi karena dia terlalu banyak mikir dan ngajak orang lain mikir. Dan itu… dianggap bahaya.
Lucu ya? Kadang dunia ini kayak taman yang lebih milih rumput kelihatan rapi daripada punya tanah yang sehat. Mereka bunuh si tukang gali akar karena takut liat akar pohon mereka ternyata keropos.
Tapi ya, ironisnya… setelah dia mati, benih-benih pikirannya malah nyebar ke mana-mana. Plato, Aristoteles, Renaissance, bahkan demokrasi modern—semua nebeng warisan Socrates. Kayak plot twist di akhir film: ternyata lalat kecil itu bikin kuda terbang.
Jadi kalau kamu nanya kenapa Socrates dihukum mati? Jawaban pendeknya: karena dia bikin orang mikir. Dan dunia, seperti biasa, belum siap.
Komentar
Posting Komentar