Apa yang membuat taksi Blue Bird masih mampu bertahan di era aplikasi online seperti GoCar dan Grab?

 

Sebelumnya saya mohon maaf jika tulisan saya ini mungkin menyinggung pengemudi taksi online yang ada disini. Tulisan ini hanyalah opini saya pribadi dan berdasarkan pengalaman saya pribadi. Tidak menyamaratakan semua taksi online seperti itu.

Ilustrasi taksi online

Di kolom komentar, beberapa ada yang pro dengan si Cici, tapi ada juga yang kontra.

Dimana yang pro (lebih pilih taksi konvensional, seperti Bluebird,dll), setuju karena beberapa alasan,

  • Lebih profesional, berseragam, identitas lengkap
  • Lebih ramah ke konsumen
  • Cara mengemudinya lebih nyaman
  • Lebih sigap saat konsumen butuh bantuan
  • Istilah gampangnya, kita betul-betul diperlakukan sebagai Boss

Ilustrasi taksi konvensional

Di awal-awal kemunculan layanan taksi online, memang orang-orang berbondong-bondong pindah ke layanan taksi online, karena tarifnya yang lebih murah dibandingkan taksi konvensional. Ditambah kepraktisan karena bisa dipesan lewat hape.

Saat itu, setahu saya, pengemudi taksi online masih dimanjakan dengan komisi yang cukup besar dari pihak operator. Sehingga dengan orang-orang berbondong-bondong pindah ke layanan taksi online, membuat taksi-taksi konvensional merugi.

Akan tetapi setelah beberapa tahun berjalan, pihak operator mulai memangkas komisi untuk mitra taksi online. Sehingga komisi yang didapatkan mitra, jadi mengecil.

Disitulah perlahan mulai berubah layanan driver taksi online kepada penumpang nya.

Mungkin karena tekanan psikis karena tarif yang jadi murah, keramahan kepada konsumen jadi berkurang, kebersihan kabin jadi berkurang, dan beberapa oknum driver terkesan acuh terhadap konsumen.

Ya, saya alami sendiri saat ini kenyamanan antara naik taksi konvensional dengan taksi online jauh terasa perbedaanya.

Beberapa kali naik taksi online, mungkin dari 10 x naik, 3x nya oke, sisanya 7x kurang.

Terakhir kali saat naik taksi online saat mau ke stasiun, datang mobil yang sungguh membuat saya melongo.

Tampilan luar mobil yang agak kotor, lalu masuk ke dalam mobil, banyak baju dan sarung dong di jok mobil… sopir pun acuh dengan barang-barang pribadinya.

Andai tidak buru-buru ke stasiun, sudah saya cancel itu taksi online.

Saat kami bawa beberapa koper, si sopir pun acuh. Kami sendiri yang membuka bagasi dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.

Berbeda sekali saat kami sekeluarga naik taksi konvensional. Saat itu perjalanan menuju bandara.

Begitu tau koper kami banyak, sopir langsung keluar pintu, dan dengan sigap memasukkan koper ke dalam bagasi mobil.

Dengan perbedaan kenyamanan yang seperti itu, akhirnya konsumen pun banyak yang kembali lagi ke taksi konvensional.

Tidak apa-apa lah konsumen bayar lebih mahal. Tapi perjalanan jauh lebih nyaman.

Ditambah lagi, mengutip komentar salah satu netizen, naik taksi konvensional vibes nya berasa Boss. Sedangkan naik taksi online, serasa numpang mobil orang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa 15 idiom keren yang wajib diketahui?

Bagaimana pendapatmu mengenai metode intermittent fasting?