Mengapa pohon kelapa tidak memiliki ranting-ranting seperti pohon lainnya?
Ohohoho… Pertanyaan ini mudah dijawab, loh. Mari kita lihat morfologi dari pohon kelapa.
Morfologi dari pohon kelapa dapat diringkas sebagai pohon dengan batang ramping bergurat dan daun berpelepah mengumpul di sekitar pucuk. Jika kita perhatikan lebih lanjut, pelepah daun yang berada paling dekat dengan pucuk (paling atas) mengarah ke atas, sedangkan semakin menjauh dari pucuk, pelepah daunnya semakin layu dan bahkan mungkin tinggal menunggu mati.
Kita bisa melihat pola tersebut bahkan dari pohon kelapa pertama kali bertunas.
Calon batang baru awalnya tertutup oleh pelepah daun, namun lama-kelamaan, batang tersebut menebal seiring dengan matangnya jaringan pembuluh di dalamnya. Setelah matang, fokus pertumbuhan makin bergeser ke atas, dan pelepah daun yang tadinya muda dan berada di pucuk, sekarang berada di bawah.
Karena pelepah daun tua berada di bawah sehingga tertutup oleh pelepah daun yang lebih muda, efisiensi laju fotosintesis yang dapat dilakukan oleh pelepah daun tua akan menurun. Maka dari itu, lambat laun jaringan pembuluh yang menghubungkan batang dengan pelepah daun tua mulai diputus, sampai pada satu titik di mana pelepah daun tidak lagi mendapat nutrisi dan akhirnya mati.
Begitu pelepah daun mati, dia akan mengering sebelum akhirnya tanggal dari batang pohon, meninggalkan gurat-gurat pada batang pohon lengkap dengan bekas jaringan pembuluhnya.
Karena pola pertumbuhan pohon kelapa mengharuskan adanya penanggalan pelepah daun secara rutin, artinya setiap pelepah daun tidak bisa tumbuh permanen, yang tersisa pada permukaan luar batang kelapa hanyalah batang kelapa yang gundul. Jadi jangan mengharapkan pohon kelapa punya cabang dan ranting, pelepah daunnya saja tidak berumur panjang.
Nah, kalau dijelaskan secara evolusioner, pohon kelapa (Cocos nucifera) adalah anggota dari Ordo Arecales (bersama dengan pohon-pohon palem lainnya). Ordo Arecales ini adalah kerabat dekat dengan Ordo Poales, alias kelompok rumput-rumputan dan jahe-jahean. Pernah lihat bagaimana rupa dari rumput-rumputan yang dikenal sebagai tanaman jagung (Zea mays)?
Kurang lebih bentuk dasarnya mirip dengan sepupu jauhnya; pohon kelapa. Tanaman jagung tumbuh dengan menumbuhkan pelepah daun yang menyelimuti batang muda sebelum akhirnya batangnya mematangkan diri dan daunnya merunduk. Bedanya, daun pada tanaman jagung tidak langsung tanggal, toh karena umur tanaman jagung cuma… seumur jagung…
Kalau mau lihat contoh rumput yang lebih mendekati bentuk hidup pohon kelapa, tengoklah bambu.
Umur bambu jauh lebih panjang dari rumput-rumputan lainnya, maka dari itu bambu akan menanggalkan pelepah daun tuanya demi menunjang pertumbuhan pelepah daun mudanya. Hanya saja karena pertumbuhan bambu sangat cepat, banyak pelepah daun belum sempat tanggal namun sudah tumbuh banyak pelepah daun baru di atasnya.
Oke, kita sudah paham kalau pohon kelapa tidak bercabang atau beranting karena silsilah evolusinya, namun kenapa pohon kelapa tidak berevolusi untuk menumbuhkan cabang dan ranting untuk memaksimalkan area rambahan pohon untuk mendapatkan sinar matahari?
Jawabannya adalah karena pohon kelapa tidak memerlukan batang dan ranting untuk bertahan hidup di habitatnya sendiri.
Pohon kelapa hidup di pesisir tropis yang berpasir dan mendapatkan cahaya matahari sepanjang tahun. Di lingkungan berpasir dan berkadar garam tinggi, tidak banyak pohon bisa hidup sehingga dapat menyaingi posisi pohon kelapa dalam mendapatkan cahaya matahari. Ditambah lagi dengan tingginya intensitas cahaya matahari di habitat asli pohon kelapa, pohon kelapa sudah mendapatkan asupan cahaya matahari bahkan dengan jumlah pelepah daun yang tidak terlalu banyak. Satu lagi, area pesisir sering diterpa oleh angin kencang, jadi morfologi pohon kelapa yang ramping dapat mencegah pohon kelapa rubuh akibat tiupan angin.
Jadi demikianlah penjelasan singkat soal mengapa pohon kelapa tidak memiliki batang dan ranting.
Komentar
Posting Komentar