Ketika Anak Punya Kendali: Pelajaran di Balik Sebuah Dialog Keluarga
Ada sebuah situasi yang cukup sering terjadi dalam kehidupan rumah tangga: ketika hubungan suami-istri tidak lagi bisa dipertahankan, dan akhirnya harus berpisah. Di momen seperti itu, tak jarang anak-anak yang justru diposisikan sebagai pihak yang harus memilih. Pertanyaan yang sering dilemparkan adalah, “Kamu mau ikut ayah atau ibu?”
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana bagi orang dewasa, tapi bagi anak, itu bisa menjadi beban yang berat. Di usia mereka yang masih butuh rasa aman dan dukungan penuh, disuruh memilih di antara dua orang yang paling mereka cintai justru bisa meninggalkan luka batin yang tak terlihat.
Coba bayangkan, di saat orang tua sibuk bertengkar dan memutuskan berpisah, anak malah diminta menentukan nasibnya sendiri. Padahal, di usia sekecil apapun, anak tetap butuh stabilitas emosional dan kehadiran kedua orang tuanya.
Dalam situasi seperti ini, seharusnya anak tidak dibebani pilihan semacam itu. Karena anak bukan penonton pasif dalam konflik keluarga, apalagi pelampiasan akibat hubungan yang retak. Anak justru butuh ruang aman, tempat di mana ia bisa tetap merasa dicintai dan dihargai tanpa harus memihak.
Ada kalanya, anak ingin berkata: “Daripada saya disuruh pilih, lebih baik kalian ikut saya.” Bukan dalam arti harfiah, tapi dalam arti orang tua tetap hadir dan mendampingi anak sesuai dengan kebutuhannya, bukan ego masing-masing. Karena meski hubungan suami-istri berakhir, hubungan sebagai orang tua akan terus berjalan sampai kapan pun.
Ada beberapa hal penting yang bisa kita renungkan dari kondisi semacam ini:
- Jangan libatkan anak dalam konflik orang tua.
Anak tidak perlu tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. Yang mereka butuhkan hanyalah kasih sayang, perhatian, dan rasa aman. - Utamakan kepentingan anak di atas ego pribadi.
Perceraian bukan akhir dari peran sebagai orang tua. Justru di titik itulah peran ayah dan ibu tetap dibutuhkan, meski dalam bentuk yang berbeda. - Berdayakan anak tanpa membebani.
Dengarkan suara mereka. Cari tahu apa yang mereka rasakan, apa yang mereka harapkan, dan bagaimana mereka ingin tetap merasakan kehangatan keluarga meski dalam situasi yang berubah.
Karena pada akhirnya, menjadi orang tua bukan tentang siapa yang lebih benar atau siapa yang lebih kuat, tapi siapa yang lebih bijaksana dan mampu mendahulukan kepentingan anak di atas segalanya.
Anak tidak pernah meminta orang tuanya untuk sempurna, tapi mereka selalu berharap punya orang tua yang hadir, mendengarkan, dan memberi rasa aman. Maka sebelum bertanya, “Kamu ikut siapa?”, tanyakan dulu, “Apa yang bisa ayah dan ibu lakukan supaya kamu tetap bahagia?”
Karena keluarga yang sehat bukan tentang keutuhan fisik, tapi tentang kualitas hubungan dan kedekatan yang tetap terjaga, apapun kondisi yang terjadi.
Komentar
Posting Komentar