Mengapa orang kaya menjadi lebih kaya dan orang miskin menjadi lebih miskin?
Ilustrasi dari Deddy Corbuzier.
Bicara tentang orang kaya di Indonesia, beban mereka ternyata sangat berat.
Saya ambil contoh dari perjuangan Mbak Nunung Srimulat.
Beliau babak belur karena menjadi tulang punggung untuk keluarga besarnya.
- Sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara, Mbak Nunung mati-matian bekerja menafkahi mereka semua.
- Kakak butuh uang, larinya ke Mbak Nunung.
- Adik butuh uang, mintanya ke Mbak Nunung.
- Kakak dan adik sudah berumah tangga, minta nafkahnya ke Mbak Nunung.
- Kakak dan adik punya anak, minta uang lagi ke Mbak Nunung.
- Ponakan mau sekolah, Mbak Nunung yang membiayai.
- Ponakan mau kuliah, Mbak Nunung yang support secara materi.
- Bahkan ponakannya mau menikah dan butuh biaya untuk resepsi, lagi-lagi minta ke Mbak Nunung.
Yang membuat saya tambah nyesek, Mbak Nunung sampai ketakutan apabila buka HP.
Beliau parno, trauma dan panik karena membayangkan keluarganya di Solo mau minta jatah lagi.
Boro-boro mau empati, simpati dan nanya kabar.
Keluarganya menghubungi hanya sebatas minta duit, duit dan duit saja.
Mbak Nunung yang dulunya kaya raya, saat ini babak belur.
Gimana nasib teman-teman yang ekonominya masih serba kekurangan tapi punya keluarga satu tipe seperti di kasus Mbak Nunung.
Mohon maaf, ini masalahnya bukan antara kaya versus miskin.
Tapi tulang punggung keluarga versus orang yang perilakunya mirip parasit dan benalu.
Yang membuat saya tidak habis pikir.
Banyak yang normalisasi kebiasaan buruk seperti ini.
Ada yang bilang sudah tradisi, adat bahkan sampai berani cherry picking dalil agama serampangan.
Intinya mereka melakukan segala cara supaya korban mau menjadi sapi perahnya, parah sekali.
Selain itu, perasaan saya tambah campur aduk melihat berita tentang perjuangan perempuan pekerja migran Indonesia.
Beliau mati-matian kerja di luar negeri supaya rumahnya bisa direnovasi, eh ternyata keluarganya berbohong.
Bangunan yang selama ini dia kira sudah bagus, ternyata foto rumah milik tetangganya.
Asli, setan pun geleng-geleng kepala melihat tingkah laku manusia seperti itu.
Sedih rasanya melihat tulang punggung keluarga diperlakukan semena-mena seperti ini.
Mereka yang hobi minta-minta, gak akan paham sakitnya perjuangan orang yang kerja keras mencari nafkah.
Gotong royong semu itu melelahkan.
Dimana satu dua orang yang berjuang, sisanya terima beres menunggu kiriman.
Komentar
Posting Komentar