INDONESIA BERDARAH: PEMBUNUHAN MISTERIUS SADIS PNS SAKSI KORUPSI
Pada tahun 2022, seorang PNS di Semarang siap menjadi saksi korupsi pengalihan aset oleh kantornya. Sehari sebelum pemeriksaan, ia hilang. Ia kemudian ditemukan sudah tak bernyawa dalam kondisi mengerikan.
Slamet tiba di Pantai Marina, Semarang, Jawa Tengah. Ia bekerja sebagai operator buldoser dan ia mau membersihkan rumput di sekitar pantai. Menyusuri pantai, ia kaget karena menemukan sebuah motor yang terbakar hangus. Saat itu Kamis, 8 September 2022 pagi hari.Ia kemudian melapor ke mandornya dan kembali bekerja. Saat itu pukul 11 pagi. Tidak berniat menyelidiki lebih jauh bangkai motor itu, Slamet gagal melihat kalau bukan hanya motor yang terbakar di Pantai Marina, melainkan juga sebuah tubuh manusia.
Keesokan harinya, polisi tiba dan akhirnya menemukan sebuah jasad terbakar hangus tak jauh dari lokasi penemuan motor terbakar. Jasad itu ditemukan bersama sebuah komputer jinjing, ponsel, dan sebuah papan nama identitas yang bertuliskan "Iwan Budi Paulus".
Selain terbakar, jasad itu pun tidak punya kepala... Anjing pelacak dikerahkan. Polisi menduga kepalanya tidak terletak jauh dari jasad tapi dibawa pergi oleh hewan liar. Tes DNA pun dilakukan dengan dua anak Iwan Budi Paulus untuk memastikan apakah mayat itu benar Iwan.
Hasilnya cocok. Jasad tanpa kepala yang terbakar itu adalah Iwan Budi Paulus, pegawai Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) berusia 51 tahun. Motor yang terbakar di dekat jasadnya adalah motor dinasnya, bernomor polisi H 9799 RA. Rupanya, ia sudah 2 minggu dilaporkan hilang.
Polisi menyelidiki apakah terbakarnya motor disebabkan korslet dari dalam atau memang ada yang membakar dari luar. Namun, jawaban dari pertanyaan itu sudah terngiang-ngiang. Bukti-bukti lain, termasuk kondisi jasad Iwan, mengarah ke pembunuhan keji.
Apalagi, ia sudah hilang dari sehari sebelum ia seharusnya menghadap Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Tengah sebagai saksi kasus dugaan korupsi pengalihan aset. Kerugian dugaan korupsi itu mencapai Rp3 miliar. Kondisi jasadnya pun memprihatinkan.
Selain kepala, pelaku pembunuhan Iwan juga menghilangkan telapak tangan dan telapak kakinya. Di TKP, ditemukan sebilah pisau. Polisi yakin itu merupakan senjata pembunuhan: entah saat menghabisi nyawa Iwan atau memutilasi jasadnya. Ia sudah meninggal sebelum dibakar.
Para saksi kasus Iwan menegaskan permintaan mereka dilindungi oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Iwan seharusnya bersaksi perihal penyalahgunaan aset di BPKAD terkait hibah tanah PT. KDAL kepada Pemerintah Kota Semarang sebanyak 8 bidang tanah.
Sejumlah orang menduga Iwan sendiri ikut terlibat dalam kasus korupsi itu. Namun, keluarga dan kerabat membantahnya. Menurut mereka, Iwan adalah sosok yang profesional dan bertanggung jawab. Bila benar ia korupsi, harusnya ia sudah beli mobil bagus dengan tunai, bukan hutang.
Rumahnya pun masih bangunan lama. Usai diselidiki, disimpulkan siapapun yang membunuh Iwan merupakan orang terlatih karena pemilihan lokasi pembakaran/pembuangan jasad Iwan. Pasalnya, posisi yang ia pilih sepi dari warga, ditumbuhi ilalang, dan merupakan blind spot.
Berangkat dari dugaan ini, lahirnya 3 nama anggota TNI yang diduga terlibat. Mereka diselidiki oleh Polisi Militer. Sayangnya, ketiganya mati-matian menyangkal keterlibatan mereka akan pembunuhan sang warga sipil. Panglima mereka sampai frustrasi.
Namun, ketiganya memiliki alibi kuat. Penyelidikan terhadap ketiga oknum TNI ini pun dihentikan karena tak cukup bukti. Selain itu, misterius lain yang kemungkinan besar menjadika Iwan target: sebuah tas. Saat berangkat kerja, ia tidak bawa tas.
Pada 7 Maret 2022, 4 bulan sebelum ia tewas, polisi menerbitkan surat tugas untuk pertama kalinya. Iwan pun mencari dokumen tanah yang diminta polisi itu namun tak ada. Dokumen-dokumen itu anehnya tak ada sampai Iwan harus mengobrak-abrik ruang arsip.
Penasihat hukum menduga ia sedang di perjalanan untuk bertukar dokumen dengan orang lain saat ia hilang. Atau bahkan ia pergi ke Pantai Marina karena katanya, ia mau bertemu seseorang di situ keesokan harinya. Iwan punya kebiasaan survei lokasi dulu sebelum bertemu orang.
Hingga kini, hampir 2 tahun kemudian, kasus ini masih mandek penyelidikannya. Polisi sebut masih ada temuan-temuan baru.
Komentar
Posting Komentar