Alasan Alexander Agung dianggap sebagai penakluk yang baik (agung), tetapi Genghis Khan dianggap sebagai penakluk yang bengis
Alexander Agung, anak kesayangan Philip II dari Makedonia, lahir dengan sendok perak di mulutnya dan guru privat sekaliber Aristoteles. Sementara itu, Genghis Khan, atau Temujin, lahir di padang rumput Mongolia dengan background yang bisa dibilang... agak keras. Bayangkan aja, dia harus bertahan hidup di tengah perang antar suku yang brutal.
Nah, sekarang kita lihat bagaimana sejarah memperlakukan mereka:
- Alexander Agung: Digambarkan sebagai pemimpin visioner yang menyebarkan budaya Hellenisme. Dia dianggap membawa "peradaban" ke wilayah yang ditaklukkannya.
- Genghis Khan: Dicap sebagai monster berdarah dingin yang menghancurkan peradaban. Padahal, di bawah kepemimpinannya, Kekaisaran Mongol justru memperkenalkan sistem hukum yang efisien dan memajukan perdagangan lintas benua.
Tahu nggak, sebenarnya keduanya sama-sama melakukan pembantaian massal. Tapi kenapa yang satu dianggap "menyebarkan peradaban", sementara yang lain dianggap "menghancurkan peradaban"? Jawabannya sederhana: bias budaya.
Sejarah dunia selama berabad-abad ditulis dari perspektif Eropa. Jadi nggak heran kalo Alexander yang berasal dari Yunani—yang dianggap sebagai akar peradaban Barat—lebih diromantisir. Sementara Genghis Khan? Yah, dia kebagian peran sebagai "orang barbar dari Timur". Klise banget, kan?
Belum lagi soal dampak jangka panjang. Kekaisaran Alexander memang nggak bertahan lama, tapi warisan budayanya masih bisa kita rasakan sampai sekarang. Sementara Kekaisaran Mongol? Meskipun bertahan lebih lama dan punya dampak yang lebih kompleks, tetap aja dianggap sebelah mata.
Jadi inget sama seorang ahli sejarah yang pernah bilang, "Sejarah ditulis oleh para pemenang." Tapi aku mau nambahin: "...dan pemenang itu biasanya yang punya pena paling bagus." Alexander punya sejarawan Yunani yang jago nulis, sementara Genghis Khan? Yah, dia kebagian storyteller dari musuh-musuhnya. Fair banget ya?
Jadi, kita harus nanya: Apa bedanya membunuh orang pake pedang Yunani sama membunuh pake panah Mongol? Apa bedanya menaklukkan kota atas nama "penyebaran budaya" dengan menaklukkan kota untuk memperluas wilayah? Pada akhirnya, both are equally dead.
Tahu nggak, ironinya, Kekaisaran Mongol justru lebih toleran terhadap perbedaan agama dan budaya dibanding banyak kerajaan Eropa pada masanya. Tapi ya gitu deh, image is everything. Alexander punya personal branding yang lebih oke, sementara Genghis Khan? Yah, dia kebagian jadi poster boy buat stereotipe "orang Asia yang kejam".
Komentar
Posting Komentar